Membaca Sisi Lain Ibn Khaldun | Review buku #MuqaddimahIlmuTasawuf
Kapasitas dan kapabilitas Ibn Khaldun
(w. 1406) sebagai sejarawan ataupun sosiolog telah diakui di dunia Islam
ataupun di dunia barat. Banyak para sarjana dan cendekiawan yang telah mengkaji
pemikirannya dan telah menghasilkan beberapa riset dan publikasi yang melimpah
tentangnya dan telah memengaruhi tokoh-tokoh besar. Melalui karyanya Muqaddimah,
Ibn Khaldun menunjukkan kepiawaiannya dalam menarasikan sejarah, kondisis
sosial, politik, ekonomi yang telah dialaminya.
Lalu bagaimana ketika Ibn Khaldun
tampil selayaknya seorang pengkaji tasawuf? Inilah yang ia coba tunjukkan
melalui karyanya yang berjudul Syifa al-sail li Tahdzib al-Masail, yang
diterjemahkan oleh Turos Pustaka menjadi Muqaddimah Ilmu Tasawuf: Panduan
Menapaki Jalan Ruhani ala Para Sufi (2025).
Dalam
kitab ini Ibn Khaldun menunjukkan dirinya selayaknya seorang pengkaji tasawuf dan
sebagaimana tokoh-tokoh tasawuf sebelumnya. Dalam catatan oleh pentahqiq-nya,
bahwa kitab ini merupakan jawaban dari persoalan seputar tasawuf yang ditulis
oleh Imam al-Syatibi pada masanya.
Dalam
buku ini Ibn Khaldun menyuguhkan perkembangan tasawuf sebagai ilmu sebelum masa
hidupnya. Ia menyajikan perdebatan, permasalahan, dinamika dan pergulatan intelektual tasawuf
pada eranya. Ia banyak mengutip tokoh-tokoh besar dan merujuk pula pada
kitab-kitabnya dalam buku ini.
Pembagian
Tasawuf.
Ibn Khaldun dalam kitab ini lebih
sering memakai kata mujahadah (bersungguh-sungguh) untuk mendefinisikan
dan menjelaskan apa itu Tasawuf. Ia membagi tiga bentuk mujahadah :
taqwa, istiqamah dan kasfy.
Mujahadah
pertama adalah Takwa. Secara sederhana takwa adalah dengan meninggalkan segala
sesuatu yang dilarang oleh syariat agar terhindar dari perbuatan yang mengarah
kepada maksiat. Orientasi dari mujahadah takwa ini adalah untuk mengawasi hati
agar tidak jatuh kedalam hal-hal yang melalaikan kepada kewajiban beragama.
Mujahadah
takwa adalah tingkatan dasar bagi setiap orang yang akan bersuluk. Mereka cukup
menjalankan syariat-syariat yang sudah ditentukan oleh Allah dan rasulnya.
Dalam tingkatan ini Ibn Khaldun belum menyarakankan akan bimbingan seorang
guru, karena mereka sudah melakukan yang sudah jelas tertulis dalam al-Qur’an,
hadis dan kitab-kitab tasawuf dasar.
Selanjutnya
adalah Istikamah. Merupakan sebuah bentuk mujahadah yang bertujuan melatih jiwa
supaya seimbang di setiap tingkah lakunya. Dengan tujuan dari Mujahadah bentuk
ini adalah untuk meraih derajat yang tinggi di hadapan Allah. Salah satu
bentuknya adalah dengan melawan hawa nafsu serta melawan setiap hal hal yang
mengarah kepada hal tersebut. Ibn Khaldun memberi penegasan bahwa isitikamah
ini bukan berarti meniadakan sifat-sifat naluriah dari manusia. Ia menekankan
bahwa Istikamah adalah sebuah bentuk kontrol dan penyembuhan jiwa dan jiwa-jiwa
tersebut berfungsi sebagaimana Allah tetapkan.
Mujadahah
istikamah ini memerlukan waktu yang lama dan berbeda-beda tergantung dari
setiap diri manusia itu sendiri. Karena inti dari Mujahadah ini adalah untuk
menundukkan hawa nafsu dan semua hal yang mengarahkan pada setiap hamba. Maka
pada dlam bentuk Mujahadah ini Ibn Khaldun menyarankan agar perlunya seorang
guru bagi setiap murid yang menempuh bentuk Mujahadah ini.
Terakhir
adalah bentuk Mujahadah kasyf atau penyingkapan. Orientasi dari
Mujahadah ini adalah untuk mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah
termasuk sifat atau hal-hal yang menyangkut tentang manusiawi. Sebelum seorang
hamba melakukan mujahadah bentuk kasyf
maka seorang hamba harus menempuh dua bentuk mujahadah sebelumnya; takwa
dan istikamah.
Pada
mujahadah ini Ibn Khaldun menyarankan adanya seorang guru sufi atau mursyid. Tujuan
dari Mujahadah ini adalah untuk mencapai kasyf atau penyingkapan dan musyahadah
yang bertujuan mengangkat Hijab atau penghalang yang menghalangi Alam Ruhani.
Di khawatirkan jika tidak adanya seorang guru, bagi seorang yang menempuh jalan
ini akan tersesat dalam bisikan-bisikan dari setan.
Tasawuf yang berlandaskan dengan
Syariat
Di dalam kitab ini, Ibn Khaldun ingin
menunjukkan tasawuf yang sesuai dengan tasawuf arus utama yang berlandaskan
syariat tanpa adanya unsur-unsur lainnya.
Hal
ini ia tunjukkan dengan mengutip tokoh-tokoh otoritatif dan kitab-kitab mereka,
misalnya seperti Imam al-Qusyairi dengan kitab Risalat al-Qusyairiyah, Imam
al-Ghazali dengan Ihya-nya, ataupun dengan Imam al-Muhasibi dengan al-Ri`aya
li-huquq Allah. Berbagai kutipan dari kitab-kitab tersebut ia uraikan
diberbagai halaman dan diulang di buku ini.
Selain
itu, Ibn Khaldun juga mewanti-wanti untuk menghindari beberapa tokoh sufi yang
mempunyai kecenderungan filosofis yang ia katakan sebagai bentuk penyimpangan,
mereka antara lain: Ibn Faridh, Ibn Barrajan, Ibn Qasi, al-Buni, Ibn Arabi dan
Ibn Sawdakin.
Penolakannya
terhadap doktrin-doktrin mereka oleh Ibn Khaldun ditunjukkan oleh Ibn Khaldun
dengan sangat apik. Ia bahkan mengulas inti doktrin-doktrin dari para sufi
tersebut secara gamblang, seperti wahidiyyah ataupun ahadiyyah.
Selain
itu Ibn Khaldun juga menyebut beberapa sufi seperti Ibn Dahhaq, Ibn Sabiin,
Al-Syusytari sebagai penganut ajaran wahdat al-wujud. Uniknya disini ia
tidak memasukkan nama Ibn Arabi yang dikenal secara luas yang namanya
dilekatkan dengan ajaran wahdat al-wujud.
Sisi Ibn Khaldun Yang Tak Hilang
Meskipun dalam menuliskan buku ini Ibn
Khaldun ingin mengarahakan tasawuf yang berorientasukan kepada syariat,
selayaknya tokoh-tokoh yang ia kutip, Imam Qusyairi, al-Ghazali, al-Muhasibi
dan tokoh-tokoh lainnya. Ibn Khaldun tidak melupakan sisi yang ia tekuni,
sejarah.
Dalam
kitab ini, Ibn Khaldun tetap tidak melupakan sisi historis dan sosiologis dari
tasawuf sendiri. Hal ini bisa dibaca bagaimana Ibn Khaldun menjelaskan, merinci
perkembangan ajaran tasawuf ini. Bagaimana perdebatan dan dinamika yang terjadi
dalam tasawuf ini, yang mana ia alami dan baca sebelum ia sendiri lahir.
Ibn
Khaldun yang hidup setelah tokoh-tokoh yang ia kutip kitabnya dalam buku ini,
ataupun tokoh-tokoh yang ia kritik, sangat baik dalam menjelaskan perkembangan
dan dinamika pemikiran mereka. Apalagi
Ibn Khaldun yang menghabiskan sebagian hidupnya di wilayah Maghrib atau Afrika
Utara yang mana perdebatan dan pengajaran tentang tasawuf ini berbeda dengan
yang ada di Masyriq atau Jazirah Arab timur.
Ibn
Khaldun menyebut mereka dengan istilah sufi Mutaakhirin atau generasi sufi
belakangan. Mereka para sufi Mutaakhirin lebih dikenal denagn ajaran aatu
doktrin-doktrin yang menyangkut periha kasyf. Ibn Khaldun membagi mereka kepada dua
kelompok, yaitu yang mempunyai kecenderungan kepada masalah filosofis seperti tajjali,
mazhahir, asma dan hadarat. Dan kedua adalah yang memiliki
kecenderungan kepada masalah Teologis yang menganut paham wahdat al-wujud.
Perihal
dua aliran ini Ibn Khaldun mengulas lebih dalam dan luas tentang pemikiran dari
dua golongan tersebut. Ibn Khaldun piawai menguraikan, menjabarkan ajaran dan
doktrin mereka yang menyangkut tentang kasyf. Ibn Khaldun ingin
meluruskan pandanan-pandangan mereka yang aneh atau yang dinilai Ibn Khaldun
menyimpang dalam tradisi tasawuf. Sebagaimana yang ia tegaskan berkali-kali
bahwa apa yang disebut dengan tasawuf berdasarkan karya-karya ulama tasawuf
adalah dua mujahadah terakhir, yaitu; istikamah dan perihal yang menyangkut kasyf.
Buku ini merupakan manual tasawuf bagi
mereka yang ingin mendalami atau mengkaji tasawuf. Di sini Ibn Khaldun tampil
selayaknya seorang sufi yang ingin membersihkan tasawuf dari unsur-unsur
negatif dan memberikan arahan bagaimana tasawuf seharusnya diamalkan.
Meskipun buku ini tidak tebal, buku ini
cukup untuk menjelaskan hal-hal yang selama ini dipermasalahkan atau
diperdebatkan dalam tasawuf. Dan itu semua dijelaskan oleh Ibn Khaldun dengan
sangat baik dan ia dukung dengan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur’an dan
Sunnah dan merujuk kitab-kitab tasawuf otoritatif.
